GERBANGBUANA.ID — Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memberikan catatan penting terkait rencana pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis untuk Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita (MBG 3B). KPAI menegaskan bahwa program ini membutuhkan pengawasan serta quality control yang sangat kuat. Pasalnya, kelompok sasaran tersebut sedang berada dalam periode emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang tak terulang.
Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra, menyampaikan hal tersebut setelah menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama Badan Gizi Nasional (BGN) pada 24 September 2026. “Pemerintah agar tidak hanya fokus pada kuantitas atau jumlah porsi makanan yang tersalurkan. Keamanan, kesesuaian nutrisi biologis, serta mutu makanan harus menjadi prioritas utama demi tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Menjaga Kualitas dari Hulu ke Hilir
Quality control harus menjadi jantung utama dalam rencana pelaksanaan program MBG 3B. Pengawasan ketat ini wajib menyentuh seluruh rantai pasok. Mulai dari perencanaan menu spesifik, pemilihan bahan baku segar, proses pengolahan yang higienis, hingga metode distribusi ke tangan penerima manfaat.
Deputi Promosi dan Kerja Sama BGN, Mariman Darto, mendukung penuh langkah penguatan kualitas ini. Menurutnya, standar keamanan makanan harus terjaga agar setiap kelompok sasaran menerima asupan yang valid. Karakteristik penerima manfaat MBG 3B sangat sensitif, sehingga pendekatan umum tidak akan efektif.
Nutrisi Spesifik dan Larangan Samakan Balita dengan Anak Sekolah
KPAI mengingatkan bahwa kebutuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sangat berbeda. Ibu hamil memerlukan zat besi, kalsium, dan asam folat untuk janin. Sementara itu, ibu menyusui membutuhkan tambahan energi agar produksi ASI maksimal.
Selain itu, tekstur dan porsi makanan balita tidak boleh disamakan dengan anak usia sekolah. KPAI menyoroti risiko sharing plate problem, yaitu kondisi saat makanan habis secara administrasi namun tidak termakan oleh balita karena ukurannya yang keliru.
Lima Rekomendasi KPAI untuk Program MBG 3B
Berdasarkan hasil FGD, KPAI mendorong penguatan pada lima aspek krusial berikut:
- Diferensiasi Gizi: Menyusun menu berbeda berdasarkan kebutuhan biologis setiap kelompok.
- Quality Control Total: Mengawasi mutu makanan dari proses masak hingga siap konsumsi.
- Standar Tekstur Balita: Menyesuaikan bentuk dan kepadatan gizi sesuai usia anak.
- Edukasi Keluarga: Melatih kader dan orang tua tentang cara pemberian makan yang benar.
- Pantau Tumbuh Kembang: Mengukur keberhasilan program lewat indikator kesehatan nyata.
“Periode 1.000 HPK terus berjalan maju dan tidak pernah mundur. Oleh karena itu, quality control harus berada di garda terdepan sejak awal rencana MBG 3B bergulir. Agar investasi masa depan anak Indonesia dapat terwujud secara optimal,” tutup Jasra. (OSY)
