GERBANGBUANA. ID — Kebijakan pembatasan akses jalan di kawasan Komplek Damkar menuju Kantor Kelurahan Semper Barat menuai gelombang protes warga. Sistem buka-tutup jalan yang diterapkan dianggap semakin menyulitkan masyarakat. Utamanya warga yang setiap hari melintasi jalur tersebut untuk bekerja maupun mengurus administrasi pemerintahan.
Warga mengungkapkan, akses jalan yang selama ini menjadi jalur vital kini dibatasi dengan aturan jam tertentu. Bahkan pada hari Sabtu dan Minggu, akses disebut ditutup total. Penutupan ini membuat masyarakat terpaksa mencari jalur alternatif yang lebih jauh dan rawan kemacetan.
Situasi itu memicu kekacauan lalu lintas di sekitar kawasan Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara. Tidak sedikit pengendara roda dua yang akhirnya nekat melawan arah. Demi mempersingkat waktu tempuh menuju Kantor Kelurahan maupun akses keluar masuk lingkungan warga.
“Sekarang lewat situ seperti masuk kawasan terbatas. Ada buka-tutup jalan, dibatasi jam tertentu, Sabtu dan Minggu malah ditutup. Warga jadi korban kebijakan yang tidak memikirkan kepentingan masyarakat kecil,” ujar salah satu warga yang enggan disebut namanya, di kawasan Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara Minggu (17/05/2026).
Menurut warga, pembatasan tersebut bukan hanya menghambat aktivitas, tetapi juga berdampak terhadap pelayanan publik. Banyak warga mengaku kesulitan ketika hendak menuju kantor kelurahan. Pasalnya, mereka harus memutar cukup jauh akibat akses jalan utama tidak dapat dilintasi secara bebas.
Kondisi ini dinilai ironis karena jalan tersebut selama bertahun-tahun menjadi jalur penghubung utama masyarakat Semper Barat. Namun kini, akses publik justru terasa seperti area eksklusif yang tidak bisa digunakan sewaktu-waktu.
Warga juga mempertanyakan dasar kebijakan buka-tutup akses jalan tersebut. Mereka menilai aturan itu terlalu sepihak dan berpotensi menimbulkan persoalan sosial serta risiko kecelakaan lalu lintas akibat banyaknya pengendara yang mencari celah dengan melawan arus.
“Kalau terus dibiarkan, jangan salahkan warga kalau akhirnya banyak yang lawan arah. Karena masyarakat dipaksa mencari jalan sendiri akibat akses dipersempit,” kata warga lainnya.
Masyarakat mendesak pihak terkait, termasuk pengelola komplek damkar dan pemerintah setempat, segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pembatasan jalan tersebut agar tidak semakin merugikan warga Semper Barat.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi mengenai alasan penutupan akses pada jam tertentu maupun penutupan total setiap akhir pekan. (ANW)
