GERBANG BUANA.ID– Warga yang terdampak pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) PLN di Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, mengaku semakin resah. Pasalnya, proses pembangunan terus berjalan, sementara kompensasi yang dijanjikan kepada sebagian warga hingga kini belum juga diterima.
Salah seorang warga terdampak, Erawati (52), warga RT 05/RW 04 Semper Barat, mengaku masih dihantui rasa khawatir terhadap dampak keberadaan jaringan SUTET yang berada di dekat permukiman. Selain itu, ia juga mempertanyakan kepastian pembayaran kompensasi dari pihak PLN.
“Kami takut kalau nanti ada dampak radiasi. Sampai sekarang juga belum ada kompensasi yang dijanjikan. Sebagian warga memang sudah menerima, tetapi kami belum. Yang kami harapkan hanya kepastian agar kami tidak terus merasa was-was,” ujar Erawati. Saat dikonfirmasi gerbang buana. id, di kawasan RW 04 , Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara (27/7/2026).
Hal senada disampaikan Rukminah (59), warga RT 07/RW 05 Semper Barat. Ia mengaku hanya diminta menandatangani dokumen tanpa diberikan penjelasan secara rinci mengenai isi perjanjian maupun besaran kompensasi yang akan diterima.
“Kami hanya diminta tanda tangan sebagai persetujuan adanya tiang SUTET. Isi suratnya tidak dijelaskan. Harapan kami sederhana, persoalan ini segera diselesaikan supaya warga tenang dan tidak terus menunggu tanpa kepastian,” katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan Abrar, warga RT 07/RW 04 Semper Barat. Menurutnya, saat proses penandatanganan di kantor kelurahan, warga hanya diberi penjelasan bahwa surat tersebut merupakan izin pemasangan terlebih dahulu dan kompensasi akan dicairkan sekitar dua minggu setelahnya.
“Saya tidak sempat membaca isi suratnya karena langsung diminta tanda tangan. Katanya hanya izin pemasangan dulu, lalu sekitar dua minggu kompensasi akan cair. Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Nomor rekening saja belum pernah diminta. Kami sebenarnya tidak keberatan pembangunan dilanjutkan, tetapi harus ada kepastian kapan kompensasi dibayarkan agar warga tenang,” ungkap Abrar.
Sementara itu, Ketua RW 04 Semper Barat, Djumadi atau yang akrab disapa Uje, mengatakan persoalan ini telah berlangsung hampir tiga tahun tanpa kepastian yang jelas.
Menurutnya, terdapat delapan RT yang terdampak lintasan SUTET PLN, yakni RT 01, RT 05, RT 06, RT 07, RT 08, RT 09, RT 11, dan RT 16.
“Warga wajar kalau resah. Proses ini sudah hampir tiga tahun. Mereka sudah dijanjikan akan menerima pembayaran kompensasi. Bahkan sebagian warga sudah menandatangani dokumen, menerima buku rekening hingga kartu ATM sebagai persiapan pembayaran. Tahap pertama memang sudah ada yang menerima, tetapi tahap berikutnya sampai sekarang tidak ada kepastian,” jelas Uje.
Ia menambahkan, di sisi lain pekerjaan penarikan kabel SUTET terus berjalan dan bahkan hampir rampung, sementara kepastian pembayaran kepada warga belum juga diberikan.
“Kami terus berkomunikasi dengan pihak PLN. Jawabannya selalu diminta bersabar, tetapi tidak pernah ada kepastian kapan pembayaran dilakukan. Warga sebenarnya sudah ingin melakukan aksi unjuk rasa, namun masih kami redam agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Kami berharap PLN segera memberikan kepastian jadwal pembayaran kompensasi kepada warga,” tegasnya.
Warga berharap PLN segera memberikan penjelasan resmi mengenai mekanisme serta jadwal pembayaran kompensasi bagi seluruh warga terdampak, sehingga keresahan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dapat segera diselesaikan dan pembangunan infrastruktur kelistrikan tetap berjalan dengan mengedepankan hak-hak masyarakat. (ANW)
